Samarinda – Peran penting guru Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) di Kalimantan Timur (Kaltim) belum sebanding dengan kesejahteraan yang mereka terima.
Padahal, para guru TPA itu terlibat aktif dalam pembentukan karakter generasi muda. Mereka berkontribusi besar terhadap penanaman nilai-nilai moral, spiritual, dan etika sejak dini.
Anggota Komisi I DPRD Kaltim La Ode Nasir mendesak agar pemerintah provinsi (pemprov) memberi perhatian lebih kepada para guru TPA.
Sebab, beban kerja yang berat dan penting hanya mendapat honor yang minim. Bahkan, ada dari mereka yang sama sekali tidak menerima insentif dan hanya mengandalkan sumbangan dari keluarga.
Kondisi seperti ini dinyatakannya ini sangat ironis. “Apresiasi terhadap guru TPA tidak cukup hanya dengan ucapan terima kasih. Sudah waktunya ada kebijakan yang melindungi dan menyejahterakan mereka,” tegas La Ode, Kamis, 22 Mei 2025.
Jika pemerintah serius ingin membangun generasi yang religius dan berakhlak, ia melanjutkan, maka investasi paling awal harus diarahkan pada para pendidik agama, termasuk guru TPA.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk mulai menyusun kebijakan konkret dengan mengalokasikan anggaran dari APBD atau melalui program hibah pendidikan keagamaan.
Dengan demikian, pengakuan terhadap peran guru TPA bisa tercermin secara struktural dan memberi dampak jangka panjang bagi pembangunan karakter bangsa.
“Jika guru mata pelajaran umum bisa mendapat tunjangan dan perhatian, mengapa tidak dengan guru TPA? Mereka juga mendidik, bahkan di bidang yang sangat fundamental,” tambahnya.
Sebagai langkah awal, ia menyarankan agar dilakukan pendataan menyeluruh terhadap jumlah guru TPA di Kalimantan Timur.
Hal ini menjadi dasar penting dalam merancang program insentif dan perlindungan yang layak bagi mereka.
“Sudah saatnya ada rencana strategis yang konkret dari pemerintah, mulai dari pendataan sampai pemberian insentif secara rutin. Guru TPA juga butuh kepastian masa depan,” pungkas La Ode.

